Apakah Anak yang Cepat Dewasa Lebih Pandai?

Filed under: Parenting |

Hari ini sepulang sekolah Joel yang baru akan berusia 8 bertanya, “Mommy, what is sex?”. Saya terdiam sejenak, mencari kata-kata bijaksana untuk menjelaskan kepada anak saya yang masih sangat murni dan kekanak-kanakkan itu. Tidak mudah mencari kata-kata yang sesuai dengan dunia si kecil dan imajinasi yang dimilikinya .

Walaupun mereka memiliki akses dalam teknologi terbaru dan tercanggih, tapi kami masih sangat ketat mengontrol apa yang mereka kerjakan online. Entah sampai berapa lama? Sebagai seorang ibu, saya berharap selama mungkin. Saat anak-anak lain seusianya telah akrab dengan dunia orang dewasa, merambah dunia internet tanpa pengawasan dan terbiasa dengan film, lagu atau drama orang dewasa, kami masih sebisa mungkin menutup pintu-pintu explorasi online tersebut bagi anak-anak kami. Joel masih menikmati menonton Disney Junior, program anak-anak berusia dibawahnya.

Satu kesalahan yang dilakukan oleh banyak orang tua adalah, ingin anak-anak mereka dewasa terlalu cepat. Bangga ketika mereka bisa menyanyikan lagu yang dinyanyikan band terkenal. Bangga ketika mereka tahu topik infotainment yang sedang menghangat. Bangga ketika mereka bisa cepat bersekolah. Bangga ketika  cepat mereka menguasai percakapan orang dewasa.

Apakah anak terlalu cepat dewasa lebih pandai? Apakah mereka lebih kreatif atau punya hubungan sosial yang lebih baik?

Saya umpamakan perkembangan seorang anak dengan orang yang akan menaiki satu gedung bertingkat. Ada yang memakai elevator, yang membuat mereka cepat sampai ke tujuan tanpa mengetahui lantai demi lantai yang dilewati. Ada yang memakai escalator, yang membuat mereka bisa mengetahui lantai demi lantai tapi tidak mengenal ruangan demi ruangan. Ada yang memakai anak tangga, mereka yang berjalan lambat, yang punya waktu untuk berhenti lantai demi lantai serta mengeksplorasi ruangan demi ruangan.

Anak-anak terlalu cepat dewasa seperti orang yang memakai elevator, bisa jadi lulus sekolah lebih cepat. Mempunyai pengetahuan orang yang jauh berumur diatasnya, tapi mereka kehilangan kreatifitas, kehilangan detail, kehilangan momen-momen berharga yang bisa mereka dapatkan selama perjalanan ke puncak tersebut.

Apa yang harusnya terjadi adalah berikan kesempatan anak-anak menikmati masa kanak-kanak selagi mereka kanak-kanak. Sebelum mereka puas bereksplorasi pada usia dan dunia mereka, mengapa perlu memperkenalkan dunia lain?

Joel meskipun masih menikmati program kanak-kanak tapi dia mengetahui detail demi detail. Dia belajar lebih dalam, mencipta, membangun, membagikan. Ketika ia tertarik dengan Octonauts, program CBB utk preschooler tentang kehidupan dalam laut, ia belajar dan mengenal secara detail hampir setiap makhluk dalam air. Ia belajar sepuas-puasnya, berekspolarasi sebebas-bebasnya. Melakukan risetnya sendiri. Membuat bahan presentasi dan kerajinan tangan. Menggambar, mambangun dan berimajinasi. Karena itu pengetahuannya tentang makhluk dan kehidupan dasar laut memukau orang dewasa. Ia seakan-akan telah menjadi Ilmuwan cilik.

Melihat caranya mengisi rasa ingin tahu, saya tidak terpikir untuk memperkenalkan dia pada program anak-anak yang lebih tua. Tidak, selama ia menikmati dunianya. Dia bahkan tidak merasa kehilangan Sponge Bob (usia 7-12), ketika kami membatasi tontonan itu.

Demikian juga untuk masalah moral, menurut saya, semakin lama orang tua mempertahankan kemurnian dan kepolosan anak-anak mereka, semakin baik. Waktu Joel pulang bertanya, “What is sex”. Saya bertanya, “How did you hear about that word”. ”My friends were talking about it, frequently. But I forgot what they’re talking about”.

Kata itu tidak masuk dalam kata yang perlu diketahui, kelihatannya. Berbeda ketika ia datang bertanya “Why anemones eat small fish?”, “Is dolphin a whale?” “What kind of fish lives in midnight zone?” Saat dimana harus tersedia jawabannya.

Sex, is what make a boy different with a girl”, jawab saya pendek. Sadar akhirnya, bahwa anak saya belum siap untuk mengetahui arti sex secara praktikal.

Oh, well, it’’s a long day after all!” jawabnya, tersenyum. Percakapan yang tidak nyambung.

source: jawaban

Share and Enjoy:
  • Print
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Twitter
Posted by on February 19, 2012. Filed under Parenting. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>